Menyusuri Senyum dan Air Mata Rasulullah di Kota Mawar

(Syaikhud Darawi)

Nabi Muhammad adalah seorang nabi dan rasul yang Allah utus untuk menyempurnakan akhlaq. Sebagaimana di dalam hadits :

قلاخلأا مراكم ممتلأ تثعب امنإ

“Sesungguhnya aku hanya diutus untuk menyempurnakan akhlaq.” Sebagaimana juga di dalam Al-Qur’an :

نيملاعلل ةمحر لَّإ كانلسرأ امو

“Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.”

Sebagai seorang rasul dan nabi, Nabi Muhammad memulai berdakwah di kota Makkah dan Madinah, termasuk juga kota Thaif. Tiada lain hanya untuk menyebar luaskan agama islam di muka bumi ini.

Di sebalah kota Makkah, berjarak sekitar 120 KM. Sebuah pagar dan atau tembok yang mengelilingi kota Thaif merupakan asal mula nama Thaif diambil.

Rasulullah berdakwah di kota Thaif 10 hari, selalu ditimpa ujian dan cobaan. Namun tidak membuat beliau marah dan putus asa. Kala itu, setelah wafat Abu Thalib Rasulullah pergi ke kota Thaif untuk berdakwah ditemani Zaid bin Haritsah. Namun, kafir Quraisy tak henti-henti menyakiti Rasulullah. Ia mendatangi para pemuka Quraiys, tapi tak ada satupun yang merespon dakwah beliau.

Selain kedatangan Nabi Muhammad ke kota Thaif, beliau juga memohon perlindungan kepada suku Tsaqif dari serangan yang ia alami di Makkah setelah wafat Abu Thalib. Karena ketika itu Thaif adalah pusat kekuatan dan kepemimpinan setelah kota Makkah.

Suku Tdaqif menolak keras dakwah Rasulullah, tak henti-henti menyakitiya. Bahkan mereka tega melempari batu kepada Rasulullah. Zaid bin Haritsah berusaha melindungi nabi, namun tetap batu satu persatu menerpa kepada Rasulullah, hingga bercucuran darah. Kemdudian Nabi Muhammad

berteduh di sebuah pohon bersama Zaid, dengan keadaan luka berdarah. Niat awal pergi ke Thaif untuk mencari perlindungan dan keamanan, tapi justru semakin parah apa yang beliau alami dari pada di kota Makkah.

Kemudian, beliau berdua bertolak ke kota Makkah. Kejadian ini menjadi awal pergerakan Rasulullah bersama para sahabat untuk hijrah ke kota Madinah. Kesedihan yang dialami Rasulullah dalam perjalanan ke kota Makkah dari Thaif membuat beliau bermunajat kepada Allah SWT. :

نم ىلإ ، يبر تنأو نيفعضتسملا بر تنأ ! نيمحارلا محرأ اي ،سانلا ىلع يناوهو ، يتليح ةلقو ، يتوق فعض وكشأ كيلإ مهللا ذوعأ ، يل عسوأ يه كتيفاع نكلو ، يلابأ لاف بضغ يلع كب نكي مل نإ ؟ يرمأ هتكلم ودع ىلإ مأ ؟ ينمهجتي ديعب ىلإ ؟ ينلكت ىتح ىبتعلا كل ،كطخس يلع لحي وأ كبضغ يب لزنت نأ نم ةرخلْاو ايندلا رمأ هيلع حلصو تاملظلا هل تقرشأ يذلا كهجو رونب

.كب لَّإ ةوق لَّو لوح لَّو ىضرت

Artinya: “Ya Allah, kepada-Mu aku mengadukan kelemahanku, kekurangan daya upayaku di hadapan manusia. Wahai Tuhan Yang Maharahim, Engkaulah Tuhan orang-orang yang lemah dan Tuhan pelindungku. Kepada siapa hendak Engkau serahkan nasibku? Kepada orang jauhkah yang berwajah muram kepadaku atau kepada musuh yang akan menguasai diriku? Asalkan Engkau tidak murka kepadaku, aku tidak peduli sebab sungguh luas kenikmatan yang Engkau limpahkan kepadaku. Aku berlindung kepada nur wajah-Mu yang menyinari kegelapan dan karena itu yang membawa kebaikan di dunia dan akhirat dari kemurkaan-Mu dan yang akan Engkau timpakan kepadaku. Kepada Engkaulah aku adukan halku sehingga Engkau ridha kepadaku. Dan, tiada daya upaya melainkan dengan kehendak-Mu,”

Menyaksikan hal tersebut, Malaikat Jibril sembari berkata kepada Rasulullah :

“Allah mengetahui apa yang terjadi padamu dan orang-orang ini. Allah telah memerintahkan malaikat-malaikat di gunung-gunung untuk menaati perintahmu.”

Maksud Malaikit Jibril, agat memberi pelajaran kepada penduduk Thaif, namun justru Nabi

Muhammad menjawab dengan lembut dan tenang,

“Tidak. Aku mohon mereka diberi tangguh waktu. Ke depannya, mudah-mudahan Allah berkenan melahirkan dari mereka generasi yang akan menyembah-Nya tanpa mempersekutukan dengan sesuatu apa pun.”

Alhamdulillah, seiring berjalannya waktu, penduduk kota Thaif akhirnya memeluk agama islam, yaitu setelah Fathu Makkah, atau berakhirnya perang Hunain tahun ke delapan hijrah. Sejak kala itu, penduduk kota Thaif suku Tsaqif mulai banyak beriman, dan menjadi kota yang sejuk dihiasi bunga- bunga mawar yang indah.

Masya Allah, begitu mulia akhlaq Rasulullah, sebagai Nabi yang Allah utus untuk menempurnakan akhlaq di muka bumi ini. Semangat dan pantang menyerah dalam menyebarkan agama islam, dengan agama yang penuh cinta dan kasih sayang.

Hikmah yang dapat kita ambil dalam sebuah kejadian ini adalah Mencintai Nabi Muhammad bukan berarti seluruh alam semesta harus mengikuti pendapat seseorang yang seolah-olah dianggap paling sunnah, lalu yang lain bid’ah.

Mencintai Nabi Muhammad artinya adalah siapapun yang termasuk ummat Nabi Muhammad ini harus menjadi bagian dari bukti cintanya bagi seluruh alam semesta. Bukan malah menebarkan kebencian dan kemarahan.

Sebesar apapun dosa seseorang, tidak ada yang bisa menghalangi rasa cinta ummat kepadanya, meski cara yang digunakan untuk menunjukkannya terasa aneh di mata kita. Maka carilah setiap kebaikan yang ada pada meraka, niscaya kita senantiasa akan menebarkan cinta dan kasih sayang.

دمحم انديس ىلع ىلص مهللا

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top